Ada sebuah rahasia umum di dunia korporasi yang jarang dibicarakan secara terbuka: Lebih dari 60% proyek pembuatan software atau sistem operasional internal perusahaan berujung mangkrak atau tidak terpakai oleh karyawan.
Saya sering mendengar keluhan ini dari para direktur saat melakukan audit. Mereka telah menggelontorkan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah kepada vendor IT atau freelancer, namun setelah sistem tersebut diserahterimakan, tim lapangan (seperti orang gudang atau admin logistik) justru menolak menggunakannya. Akhirnya, sistem mahal tersebut dibiarkan berdebu, dan tim kembali menggunakan kertas serta Excel.
Apa yang sebenarnya salah? Mengapa sistem yang canggih justru ditolak oleh penggunanya sendiri?
Kesalahan Fatal: Programmer Bukanlah Praktisi Lapangan
Masalah utamanya bukan terletak pada kualitas kode (coding), melainkan pada Kesenjangan Pemahaman Operasional.
Mayoritas vendor IT atau programmer hanya ahli dalam menerjemahkan logika matematika ke dalam layar komputer. Namun, mereka tidak pernah turun ke gudang. Mereka tidak tahu betapa kacaunya situasi saat loading dock penuh dengan truk ekspedisi. Mereka tidak paham bahwa seorang checker gudang tidak punya waktu untuk meng-klik 5 menu berbeda di layar hanya untuk memvalidasi satu manifest barang.
Sistem tersebut mangkrak karena dibuat dari "kacamata orang IT yang duduk di ruang ber-AC", bukan dari kacamata orang lapangan yang sedang berkeringat.
Pendekatan System Builder: Mengawinkan IT dan Operasional
Inilah yang membedakan seorang Programmer biasa dengan seorang Enterprise System Builder.
Sebelum menulis satu baris kode pun, seorang System Builder harus membedah Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan Anda. Latar belakang saya sebagai mantan Manager Operasional di industri logistik domestik memaksa saya untuk memprioritaskan "User Experience (UX) Lapangan".
Sistem ERP atau Aplikasi Gudang yang kami bangun dirancang untuk mengikuti ritme napas karyawan Anda, bukan sebaliknya. Tombol dibuat besar, alur kerja dipangkas sesingkat mungkin (hanya dengan pemindai barcode), dan bahasa sistem disesuaikan dengan istilah yang biasa dipakai tim Anda sehari-hari.
Ketika sistem tersebut mudah dan nyaman digunakan oleh tim lapangan, otomatisasi berjalan mulus, dan presisi data 100% yang diinginkan oleh direksi akan tercapai dengan sendirinya.
Jangan jadikan perusahaan Anda ladang eksperimen bagi vendor IT yang tidak memahami bisnis Anda. Jika Anda ingin membangun sistem yang benar-benar dipakai dan mencetak efisiensi nyata, carilah mitra teknologi yang memahami kerasnya aspal logistik.
Mari berkolaborasi membangun sistem yang membumi.
Salam transformasi,
Gani Asaddiansyah
Konsultan Logistik & Enterprise System Builder