Ada satu fase dalam hidup yang mungkin dialami oleh hampir semua pencari kerja: Melakukan perjalanan berjam-jam, duduk gelisah di ruang tunggu selama berjam-jam pula, hanya untuk masuk ke ruang interview yang selesai tidak lebih dari lima menit.
Saya pernah (dan sangat sering) berada di posisi itu. Entah sudah berapa puluh atau ratus kali. Ada rasa kesal dan kecewa ketika waktu kita seolah tidak dihargai. Namun, sebagai seorang freelancer atau orang yang sedang merintis sesuatu dari nol, terkadang kita tidak punya pilihan lain selain menelan kekecewaan itu dan terus melangkah demi mendapatkan penghasilan.
Titik Nol di Pekan Raya Jakarta
Jika menengok ke belakang, tepat setelah lulus sekolah, saya memulai semuanya dari sebuah titik yang sangat sederhana: Menjadi freelancer penjaga stand di PRJ (Pekan Raya Jakarta).
Itu adalah salah satu pengalaman paling berkesan dan menguji fisik. Waktu itu saya tidak memiliki kendaraan sama sekali. Setiap hari selama sebulan penuh, saya harus berjalan kaki dari Kemayoran menuju rumah saya di Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Terkadang saya mengayuh sepeda, atau beruntung jika ada orang baik yang memberikan tumpangan motor di tengah malam.
Rutinitas saya saat itu: Pulang kerja jam 3 pagi, tiba di rumah saat subuh berkumandang, dan siangnya sudah harus bersiap berangkat lagi. Pedih memang, tapi justru kerasnya aspal jalanan itulah yang menempa mental saya.
Dari seorang penjaga stand, saya beralih menjadi pekerja harian. Saya pernah merasakan kerasnya menjadi porter bongkar muat di bandara. Hingga perlahan, keringat itu terbayar ketika saya berhasil mencapai titik tertinggi dalam karir profesional saya saat itu: Duduk di kursi Manager operasional pada PT Eka Satya Puspita.
Jatuh, Bangun, dan Transformasi Digital
Keberhasilan di posisi manajerial membuat saya memberanikan diri untuk melangkah sendiri. Saya mendirikan perusahaan bernama PT Generasi Pemuda Sukses.
Namun, dunia bisnis seringkali tidak mempedulikan seberapa optimis rencana Anda. Perjalanan perusahaan ini sangat terjal. Saya gagal, jatuh terpuruk, dan harus menghadapi kenyataan pahit tumpukan hutang.
Dalam masa keterpurukan itu, Tuhan membuka jalan lain. Saya bergabung dan disambut oleh keluarga besar AANG AVATAR INDONESIA. Di sinilah titik balik transformasi saya terjadi. Saya kembali ke "meja gambar" dan mulai merancang website serta sistem.
Proyek pertama yang menjadi batu pijakan adalah membangun sistem untuk Aang Cargo. Keberhasilan ini merembet pada kepercayaan luar biasa untuk memegang proyek EZCARE, sebuah sistem terpadu yang hari ini berjalan dengan sukses.
Sejak saat itu, puluhan website dan sistem B2B telah saya bangun. Saya menemukan kepuasan tersendiri ketika berhasil membantu perusahaan-perusahaan yang operasionalnya masih berantakan karena hanya mengandalkan Google Sheet, berubah menjadi perusahaan dengan sistem operasional dan administrasi yang rapi dan terotomasi.
Lahirnya GaniAsaddiansyah.com
Hari ini, saya membangun ganiasaddiansyah.com bukan sekadar sebagai brosur jasa. Website ini adalah perwujudan personal branding saya sebagai seorang System Builder.
Dengan integrasi Artificial Intelligence (AI) yang luar biasa mempercepat proses development, serta penguasaan kerangka kerja Flutter untuk pembuatan aplikasi Android, saya menyadari bahwa membangun sistem yang dulunya memakan waktu berbulan-bulan kini bisa dieksekusi dengan jauh lebih cepat, presisi, dan elegan.
Membangun bisnis dari nol itu menyakitkan. Menunggu invoice klien yang tak kunjung cair, atau menghadapi kegagalan di tengah jalan adalah makanan sehari-hari para hustler. Namun, sama seperti perjalanan jalan kaki di jam 3 pagi dari Kemayoran ke Priok, setiap langkah pasti akan membawa kita sampai ke tujuan.
Bagi Anda yang perusahaannya masih berjuang dengan sistem manual yang usang, mari kita berdiskusi. Saya sudah pernah merasakan berjalan di rute yang paling sulit, kini biarkan saya merancang jalan pintas (shortcut) teknologi untuk melesatkan bisnis Anda.
Salam transformasi,
Gani Asaddiansyah
Enterprise System Builder & Konsultan IT