Mencari Samudra di Tengah Badai: Refleksi Hutang, Harapan, dan Jalan Pulang

Bagikan Artikel:
Cover

Setiap kali kita menonton sebuah film, kita selalu menantikan bagian akhirnya. Entah itu diakhiri dengan klimaks yang sangat indah dan membahagiakan, atau justru tragis dan menyedihkan, sebuah film yang bagus selalu meninggalkan makna yang tertinggal di kepala kita.

Begitu juga dengan film kehidupan kita sendiri.

Saat saya menulis jurnal ini, saya sedang berada di fase yang rasanya seperti klimaks sebuah drama. Sebuah fase jatuh bangun dari kehidupan saya. Fase di mana saya sedang berjuang keras mengembalikan uang yang saya pinjam untuk membangun usaha.

Tidak ada yang romantis dari dikejar tagihan. Fase ini diliputi oleh rasa cemas yang datang tiba-tiba, dada yang terasa sesak ketika tenggat waktu menagih janji, hingga mood yang bisa hancur berantakan dalam hitungan detik.

Namun, di tengah badai emosi tersebut, ada satu jangkar yang menahan saya agar tidak hanyut: Saya yakin, Allah pasti memiliki skenario dan rencana yang jauh lebih besar dari apa yang bisa dijangkau oleh logika saya saat ini.

Direktur Kecil yang Menginginkan Instan

Jika saya menengok ke belakang, saya teringat pada sosok "Gani Kecil". Dia bukanlah anak yang pintar di kelas. Dia butuh waktu lama untuk memproses pelajaran, pemalas yang amat sangat, dan selalu menginginkan segala hal terwujud secara instan.

Saya ingat betul sebuah percakapan dengan paman saya kala itu. "Gan, nanti kalau udah gede mau jadi apa?" tanyanya. Tanpa berpikir panjang dan tanpa tahu apa artinya, si Gani kecil menjawab dengan lantang: "Mau jadi Direktur!"

Waktu berlalu, dan lucunya, Allah benar-benar mengabulkan perkataan anak kecil yang pemalas itu. Hari ini, saya benar-benar menjadi seorang Direktur... untuk perusahaan yang saya bangun sendiri. Hahaha, meskipun untuk mencapainya, saya harus dihantam dan jatuh sejatuh-jatuhnya ke dasar aspal.

Sindrom Ikan Kecil dan Samudra

Meresapi perjalanan ini, saya teringat sebuah analogi (yang pernah diceritakan oleh Panji Pragiwaksono) tentang film Finding Nemo.

Diceritakan ada seekor ikan kecil yang berenang menghampiri kura-kura tua yang bijaksana. "Kek, di mana sih letaknya samudra itu? Aku ingin sekali berenang ke sana," tanya si ikan kecil penuh semangat. Kura-kura itu tersenyum bingung dan menjawab, "Loh, yang sedang kamu renangi saat ini ya samudra." Si ikan kecil kecewa dan berkata, "Ah, masa sih? Ini mah cuma air biasa!" lalu ia pergi berlalu untuk terus mencari.

Kita seringkali tidak sadar bahwa kita sebenarnya sudah berada di dalam "Samudra" yang kita cita-citakan dahulu. Kita sudah berada di dalam doa yang pernah kita panjatkan bertahun-tahun lalu. Yang membuatnya terasa mengecewakan hanyalah karena kenyataan seringkali tidak seindah ekspektasi kita.

Tuhan memang jarang memberikan sesuatu persis seperti ekspektasi kita. Mengapa? Karena Tuhan ingin kita belajar.

Tuhan ingin menunjukkan bahwa dunia ini memang tempatnya bekerja keras, tempat untuk berusaha terus-menerus menggapai apa yang kita inginkan. Dan dari proses berdarah-darah itulah kita belajar tentang esensi kehidupan. Setiap pelajaran selalu disertai ujian. Dan sadarkah Anda? Ujian kehidupan itu tidak selalu datang sepaket dengan kunci jawabannya.

Seringkali, satu-satunya jawaban dari ujian hidup adalah kewajiban kita untuk terus belajar dari setiap kejadian yang menimpa kita.

Menjahit Luka dengan Ikhtiar

Ada sebuah nasihat ulama yang sangat masyhur dan menampar kesadaran saya:

"Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati besok."

Maka, di sinilah saya hari ini. Sedang merajut ikhtiar, menunggu pertolongan Allah melalui jalan usaha yang saya bangun di ganiasaddiansyah.com. Saya mempertaruhkan pikiran saya, keringat saya, dan dedikasi saya untuk terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri saya.

Saya akan terus berlari sampai semua hutang-hutang saya lunas. Sampai saya bisa menjadi seorang kepala keluarga yang tangguh untuk ketiga anak saya, dan semoga, bisa membahagiakan seluruh keluarga yang selalu mendoakan saya di belakang, hingga tiba waktunya saya harus berpisah dari dunia ini.

Sayangnya, atau mungkin untungnya, kita tidak pernah tahu bagaimana akhir cerita kita.

Karena hari ini adalah sesuatu yang patut kita syukuri. Setiap menit, jam, dan hari yang terlewati adalah kepingan pelajaran. Dan besok? Besok adalah misteri yang sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta.

Kabar baiknya, Allah sudah membocorkan sedikit spoiler dari akhir cerita kita:

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Diulang sampai dua kali. Sebuah penegasan yang absolut. Tugas kita hanyalah bersabar, memperkuat ikhtiar, dan tak lupa untuk terus bersedekah di tengah sempitnya jalan.

Sebagai penutup jurnal ini, doa saya hari ini tercurah penuh untuk diri saya sendiri: Ya Allah, mampukanlah hamba untuk segera melunasi semua amanah dan hutang-hutang hamba. Dan doa tulus ini juga saya kirimkan untuk kawan-kawan semua yang sedang membaca tulisan ini, yang mungkin sedang memikul persoalan yang sama beratnya dalam keheningan malam: Semoga Allah memberikan jalan kemudahan, kelancaran rezeki, serta kesehatan bagi kita semua. Teruslah berenang, karena kita sudah berada di samudra.

Salam hangat, 

Gani Asaddiansyah

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."

(QS. At-Talaq: 2-3)

Kabar Lainnya